Menelusuri Makam Belanda Di Museum Taman Prasasti

*copas = cantumkan sumber .
if u don't want someone to copy your content ,



so don't copy others and make it yours .
show your respect*
Museum Taman Prasasti
Photo by: Cahyu Cantika Amiranti/megapolitan.kompas.com
Beberapa waktu lalu gue berkesempatan untuk nyamperin Museum Taman Prasasti yg lokasinya ada di Jl. Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat. Museum ini sendiri makam dari orang-orang penting di masa kependudukan Belanda di Batavia dulu, terdiri dari para panglima perang Belanda, petinggi VOC, pematung, arsitek, seniman, dll. Museum ini diresmikan tahun 1977 sama Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Ali Sadikin. Awalnya sih ini pemakaman umum Belanda bernama Kerkhof Laan, trus namanya diganti jadi Kebon Jahe Kober, sampai akhirnya sekarang jadi Museum Taman Prasasti. Waktu dibuat jadi pemakaman itu awalnya di tahun 1795, untuk gantiin kuburan di samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk (sekarang Museum Wayang) yg udah kepenuhan. Tahun 1975 ditutup sebagai pemakaman soalnya lahan dah penuh & gak bisa nerima jenazah lagi, yg udah ada sekitar 1300an makam.

Waktu gue kesini tuh kebetulan sepi banget, itu weekend sekitar jam 12an siang. Pas mau masuk ke dalam ada sekitar 3 orang gitu kayak penjaga, gue nanya "pak beli tiket dimana ya?", abis itu diarahkan ama salah satunya. Oh iya, harga tiket untuk 1 orang cuma 5000 rupiah lho. Trus disini bisa juga minta anterin guide untuk keliling, salah satu guide yg paling dikenal tuh namanya pak Eko & kemaren dia ada. Gue gak pernah ketemu, cuma tau mukanya dari google aja (doi sering di wawancara gitu) wakakakakak..

Oh iya, pas pertama masuk ke gerbang Museum ini pengunjung udah dikasih liat sama semacam prasasti yg ada di dinding, dan yg paling menarik perhatian (untuk gue pribadi) ada simbol dari organisasi Freemason. Di prasasti pertama yg gue liat itu ada simbol tangan megang palu, ini kalo di Freemason dikenal dengan nama "Arm & Hammer". Simbol lengan & palu ini mewakili anggota Freemason sebagai pembangun / pencipta, sebagai "manusia yg sedang bekerja". Ada juga tafsir lainnya, yaitu wewenang Grand Master Masonik atas sebuah perintah termasuk untuk ke seluruh murid-muridnya.

Selain Arm & Hammer ini, di prasasti Lodewyk Schneider ada simbol Freemason juga berupa jangka & busur, di atasnya ada segitiga dengan mata satu. Simbol penggaris diartikan moralitas, jangka diartikan kekuatan untuk membatasi keinginan dalam batas tertentu. Secara keseluruhan, simbol ini melambangkan pentingnya eksplorasi keinginan manusia lewat cara yang benar secara moral. Untuk segitiga & mata satu diartikan sebagai The All Seeing Eye yg dianggap sebagai Mata Ilahi, atau mata Tuhan yg melihat segalanya. Juga sebagai pengingat bahwa pemikiran & perbuatan anggota Freemason bakal selalu diawasi sama Tuhan / Great Architect.


Masuk ke komplek pemakaman, ada 1 patung yg cukup eye catching. Namanya patung The Crying Lady atau biasa disebut juga Si Cantik Menangis. Menurut legenda, perempuan yg di patung itu sedih kehilangan suaminya yg baru dia nikahin beberapa bulan meninggal gara-gara malaria. Karena terlalu sedih, sakit hati, akhirnya dia meninggal gantung diri. Di pojok kanan ada ukiran SCVLP CARMINATI MILANO 907/1907 ITALIA.

Selain itu juga di area depan pengunjung bisa ngeliat semacam batu dengan tulisan Jepang, yg biasa dipake untuk sembahyang (terutama dari Kedubes Jepang). Batu itu sendiri dibuat sebagai tugu peringatan untuk mengenang tentara kekaisaran Jepang Kompi 9, Bataliyon 16, Divisi 2, dari kota Shibata, Propinsi Nigata, Jepang yg gugur waktu lawan tentara sekutu di Sungai Ciantung, Desa Leuwiliang, Bogor, 3-4 Maret, tahun 17 Showa (1942).


Disini ada juga peti dari Ir. Soekarno, yg dipakai waktu nganter jenazah beliau dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) ke Wisma Yaso (sekarang Museum Satria Mandala) untuk dimakamkan. Trus di sebelahnya ada peti Mohammad Hatta yg dipakai waktu bawa jenazah beliau dari Rumah Sakit Dr. Tjipto Mangunkusumo (RSCM) ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir.

Trus deket peti ini ada prasasti Dr. H. F. Roll, beliau kepala sekolah Dokter Jawa (yg namanya jadi STOVIA), yg sekarang namanya udah jadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia & gedung STOVIA jadi Museum Kebangkitan Nasional. Dr. H. F. Roll ini dokter dari Belanda yg berpikiran maju, dengan mengusulkan pendidikan kedokteran di Batavia harus sama dengan pendidikan dokter di Belanda, karena dia waktu itu ngeliat standar mutu sekolah kedokteran di Batavia jauh di bawah Belanda. Dia sumbangin dana yg besar untuk perkembangan kedokteran di Batavia, salah satunya dengan bangun gedung sekolah STOVIA di tahun 1902. Dari STOVIA ini juga lah pergerakan Budi Utomo terbentuk di tahun 1908.


Area sebelah kanan dari peti & Dr. H. F. Roll, kita bakal nemu kayak rumah kecil gitu yg biasa disebut dengan 'Rumah Bumi'. Di dalam rumah ini ada makam dari keluarga A. J. W. Van Delden, juru tulis di Indonesia Timur yg pernah memegang jabatan sebagai ketua perdagangan VOC. Di tahun 1864-1874, beliau jadi ketua Kamar Dagang & Industri di Batavia yg kemudian mengunjungi Australia di tahun 1866 dengan misi negosiasi soal pemberian subsidi dalam usaha membangun jalur uap kapal reguler yg menghubungkan Jawa sama Australia. Tahun 1887 A. J. W. Van Delden meninggal di Kobe, Jepang, mayatnya dibawa pulang ke Batavia & dimakamkan disini.

Trus jalan lagi ke arah kanan, di pojokan gitu ada prasasti dari Monsignor Adami Caroli Claessens. Beliau pastur Katholik yg dateng ke Hindia Belanda di tahun 1847 bareng pastur J.Lijnen, trus beliau diangkat jadi pastur kepala di Batavia gantiin MGR. L. Prinsen, satu tahun kemudian jadi Uskup di Batavia sampe 1893. Di bawah kepemimpinannya, Katholik cukup menyebar luas sampe ke Cirebon, Magelang, Madiun, sampe Malang. Claessens punya jasa dengan bangun kembali Gereja Katedral yg sempet roboh di tahun 1890, tapi sayang sebelum gereja selesai beliau meninggal yg akhirnya diteruskan sama MGR. Walterus Jacobus Staal.


Masuk lebih ke dalam lagi, prasasti & makam yg ada tuh lebih banyak. Di area yg lebih dalam ini, ada makam dari istri Thomas Stamford Raffles yaitu Olivia Mariamne Raffles. Makam Olivia ini cukup ekslusif, ada tangga trus dikelilingin pagar & 4 pilar kecil gitu, batu nisannya juga terbuat dari batu andesit yg tulisannya dah nge-blur banget. Olivia ini orang yg cinta sama dunia tanaman, dia salah satu orang yg mencetuskan tentang ide pembangunan Kebun Raya Bogor. Waktu Olivia meninggal di usia 43 tahun, dibuat monumen di Kebun Raya Bogor sama Raffles untuk mengenang istrinya.

Dari makam Olivia ini jalan ke arah kanan depan, pasti bakal ngeliat prasasti yg bentuknya katedral warna ijo. Itu nisan untuk Panglima Perang Belanda yg bernama Mayor Jenderal Johan Jacob Perrie dari Komandan 1 Groote Militaire Afdeeling (Divisi Militer Besar) di Jawa. Selama karier militernya dia banyak menyumbangkan jasa untuk Belanda, sampai akhirnya dapet gelar bangsawan Militaire Willems Orde (Military Order of William), kehormatan tertua & tertinggi dari Kerajaan Belanda.


Oh iya sebelum nyampe di nisan Johan Jacob Perrie (kalo telusuri dari tengah), pasti udah ngeliat patung warna coklat kemerahan. Itu patung dari Pastor Van Der Grinten, pendeta kepala Gereja Katolik Batavia, Gereja Katolik pertama di Batavia yg ada di sudut Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, yg dibangun di atas rumah mantan komandan militer Hindia Belanda Hendrik Merkus de Kock. Selain itu, Pastor Van Der Grinten juga salah satu pendiri dari Yayasan Vincentius Jakarta, 29 Agustus 1855.

Gak jauh dari patung ini ada nisan Marius Hulswit, orang yg ada di balik rancangan Gereja Katedral Jakarta Pusat, gereja termegah di Jakarta. Di dinding pintu utama Gereja Katedral juga ada tulisan dalam bahasa latin "Marius Hulswit architectus erexit me 1899-1901" yg artinya "Aku didirikan oleh Arsitek Marius Hulswit 1899-1901".


Patokan dari patung Pastor Van Der Grinten, kalo gak salah jalan lurus trus area sebelah kanan ada prasasti dari Soe Hok Gie. Gie lahir tahun 1942, dia jadi tokoh pergerakan mahasiswa sekitar tahun 1967 - 1969 gitu. Selain itu, dia juga Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia & salah satu pendiri MAPALA UI (Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia). Gie meninggal gara-gara gak sengaja hirup gas beracun di puncak Gunung Semeru (Mahameru). Jenazahnya dimakamkan di TPU Kebon Jahe Kober ini tapi kemudian diangkat kerangkanya trus dikremasi, abunya ditabur ke kawah Mandalawangi Gunung Pangrango Jawa Barat. Ini sebagai simbol kecintaan Gie terhadap alam.

Gak jauh dari prasasti Soe Hok Gie, ada nisan dari Lodewijk Launy yg lahir tahun 1793 di Kopenhagen, Denmark. Tahun 1814 Launy masuk tentara Belanda jadi bagian Kavaleri (pake kuda) yg dengan numpang kapal perang Evertsen dari Belanda ke Hindia Belanda, sampe ke Batavia tahun 1816. Launy juga akhirnya jadi Direktur Jenderal Finansial Hindia Belanda. Nisan Launy ini dibuat sama arsitek dari New York, R. E. Launitz.


Nah, ada nih 1 cerita makam yg cukup ngeri. Konon kata penjaga di Museum Taman Prasasti, pernah di area ini ada suara nangis. Pas di telusuri, suara nangis itu dari prasasti punya Pieter Erberveld. Trus malah ada pernah kesaksian pengunjung yg ngeliat airmata keluar dari tengkorak yg ada di tembok nisan itu. Dia ini orang Indonesia campuran Jerman & Thailand. Dia punya usaha & tekad yg kuat untuk menentang pemerintahan Belanda di Batavia. Sekitar 288 tahun yg lalu, bersama Raden Kartadria & pengikutnya dia berencana mau bunuh massal semua warga Belanda.

Tapi sayang, rencana ini gagal & Erberveld sama semua pengikutnya ditangkap trus semua dihukum mati. Hukuman mati untuk Erberveld cukup kejam, badan dari Erberveld ditarik sama 4 kuda ke 4 arah berlawanan sampai badan dari Erberveld pecah & isi badannya berserakan di jalan. Nah, peristiwa ini dikenal dengan nama "Pecah Kulit" trus lokasi tempat eksekusi ini sekarang dikenal dengan nama Kampung Pecah Kulit (Dulu nama jalannya Jacatra Weg, sekarang Jl. Pangeran Jayakarta, Jakarta Barat).

Nah setelah badannya pecah, kepala Erberveld ditusuk pedang & ditaruh juga di nisan dia yg berbentuk tembok itu. Tapi tengkorak & pedang yg ada sekarang itu cuma replika, aslinya udah gak ada. Trus di tembok nisan dia ini ada tulisan Belanda & aksara Jawa yg artinya "Sebagai kenang-kenangan yang menjijikkan pada si jahil terhadap negara yang telah dihukum Pieter Erberveld. Dilarang mendirikan rumah, membangun dengan kayu, meletakan batu bata dan menanam apapun di tempat ini, sekarang dan selama-lamanya. Batavia, 14 April 1722".


Nah dari Pieter Erberveld ini pokoknya di area seberang, itu ada nisan dari Johan Herman Rudolf Kohler (1818 - 1873). Dia salah satu Jenderal Belanda yg mimpin tentara KNIL di perang Aceh tahun 1873. Di tahun 1852 waktu umurnya masih 14 tahun, dia udah bertugas di Divisi Infanteri, dan tahun 1873 Kerajaan Belanda angkat Kohler jadi Mayor Jenderal & panglima tertinggi pasukan ekspedisi. Waktu 1873 itu Kohler dapet perintah dari pihak Belanda untuk serang Kesultanan Aceh, tapi pas di Aceh Kohler salah sasaran dia malah nyerang Masjid Baiturrahman (yg dia pikir itu kerajaan). Waktu itu masyarakat Aceh kuat satu sama lain pertahankan masjid, yg akhirnya Kohler gugur dengan tembakan di dadanya.

Salah satu yg menarik juga di batu nisan ini, ada simbol Ouroboros dengan gambaran ular / naga yg makan ekornya sendiri. Simbol ini sendiri punya arti sebagai pembaharuan siklus abadi hidup yg gak terbatas, konsep keabadian & kembali abadi, serta kematian & kelahiran kembali yg mengarah ke keabadian kayak Phoenix. Trus di bagian atas ada juga simbol Hexagram, yg punya banyak arti (tergantung mau diartikan dari sisi mana).


Kalau yg ini di pojokan banget, paling ujung, dari katedral ijo Johan Jacob Perrie jalan terus ke dalam lagi aja. Bakal nemuin makam-makam dari keluarga Jeremias Van Riemsdijk, Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yg ke 30, memerintah dari  1775 – 1777. Dia ini orang yg kaya raya, salah satu petinggi di VOC juga. Rumah dia dulu ada di Tanjung Timur, rumah paling mewah di Jakarta. Sekarang rumahnya disebut Rumah Tanjung Timur di wilayah Kramat Jati, Jakarta Timur. Tapi sayang rumah ini tahun 1985 hangus terbakar gara-gara ada ledakan dari dapur, sekarang yg tersisa cuma puing-puing aja. Rumah ini dulunya diwariskan turun temurun di keluarga Van Riemsdijk.

Dia pernah menikah 5 kali & punya 16 anak, salah satunya Willem Vincent Helvitius van Riemsdijk. Williem pernah menghibahkan tanahnya di Jl. Tanah Abang I (sekarang Museum Taman Prasasti) untuk memperluas area kuburan. Dia ini juragan gula yg kaya raya juga, tapi terlalu berambisi untuk memperkaya diri jadi akhirnya dipecat & bangkrut deh. Dia punya 14 anak dari istrinya, trus 10 anak dari perempuan lain. Makam sekeluargaan ini sebagian besar gak punya nama, tapi dikasih nomor gitu.

Yang menarik perhatian juga di makam keluarga ini, punya J.H. Horst yg meninggal tahun 1849 itu ada simbol tengkorak & dua tulang yg bersilang. Di Freemason, ini simbol dari konsep Memento Mori (pesan ingat kematian), yg juga merujuk ke sifat dunia ini yg cuma sementara. Nah gak semua anggota Freemason bisa punya simbol kehormatan ini di nisannya, cuma kalangan level tinggi & Grand Master aja. Katanya disini ada 5 makam yg ada simbol ini, tapi gue cuma nemu 3 aja. Trus ada lagi makam punya Nicolas Pascal yg meninggal tahun 1877, ada jam pasir di pojok bawahnya yg melambangkan waktu yg kekal di kehidupan manusia yg hanya sementara. Selain itu, simbol ini juga diartikan sebagai simbol antara atas & bawah, atau langit & bumi.


Wah pokoknya banyak banget disini deh makam, prasasti, nisan, patung dll yg bersejarah dan gak mungkin gue sebutin satu persatu disini. Ada juga punya ahli sastra Jawa kuno Dr. Jan Laurens Andries Brandes yg batu nisannya berbentuk candi yg gak utuh, simbol bahwa beliau masih punya keinginan yg belum tercapai selama hidup. Sejarah Indonesia banyak yg diungkap sama Brandes, mulai dari Kitab Pararaton sampe ke naskah raja-raja Tumapel & Majapahit. Tapi sayang nisan ini gak tau kenapa gak ke-save, padahal udah kefoto.

Selain itu ada juga nisan punya Gubernur VOC terakhir yaitu Gerardus van Overstraten, pakar di bidang kepurbakalaan Indonesia Dr. W.F. Stutterheim, panglima militer Belanda & ada monumennya di Lapangan Banteng yaitu Andries Victor Michiels, pendeta Belanda & Uskup Gereja Katolik Roma Monsignor Walterus Jacobus Stall, teman dekat sekaligus penasihat Thomas Stamford Raffles & Olivia Raffles yaitu Layden.

Trus banyak juga makam-makan dsb yg gue foto tapi gak tau itu siapa, namanya di googling juga gak ada. Yah nasib karena kemaren emang gak pake guide, jadi pake pengetahuan seadanya aja. Untuk lokasi detail museum ini ada di Jl. Tanah Abang I No.1, RT.11/RW.8, Petojo Selatan, Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Harga tiket masuk gue kemaren 5.000 (dewasa), kalo gak salah untuk mahasiswa 3.000 trus pelajar / anak-anak 2.000. Jam buka dari 09.00-15.00, tiap hari buka kecuali ada libur nasional & hari Senin. Oh iya walau tutupnya jam 15.00, tapi sering lho disini ada komunitas-komunitas yg datengnya malem, semacam wisata horor gitu lah.

Kalo lagi ke Jakarta atau emang tinggal di Jakarta, jangan lupa deh mampir ke museum ini. Belajar sejarah, sekalian nyari spot-spot foto yg bagus. Kalo siang juga gak begitu panas soalnya banyak pohon gede & bertebaran kursi buat duduk, jadi asik banget lama-lama disini. Tapi jangan lupa bawa minum / cemilan sendiri ya, soalnya di area museum gak ada yg jualan (adanya di area luar pagar museum). Terakhir ini gue kasih liat juga foto-foto lainnya, ada beberapa nisan yg masih belum tau juga itu siapa haha..

FYI tujuan utama gue kesini sebenernya mau bikin tulisan tentang jejak Freemason di Jakarta, tapi karena pengalaman di tempat ini banyak juga & cukup berkesan, jadi gue buat juga deh dalam 1 artikel ini. Mungkin yg soal Freemason bakal gye publish di beberapa artikel ke depan. Thank you!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Movie Review] Ant-Man And The Wasp

32 Pasukan Khusus Zaman Dulu Yang Disegani Musuh

Jadi, Bumi Bulat Atau Bumi Datar Nih?